Mengelola Energi agar Menjadi Lebih Efektif dan Produktif

Posted: April 30, 2011 in Pembelajaran

Saya senang ketika teman-teman mengatakan, “Salut, Gusti Bob produktif menulis”. Mungkin karena mereka lihat saya selalu memposting setidaknya satu tulisan sehari. Meskipun teman saya itu tergolong jarang memposting tulisan, saya yakin dia juga produktif dalam menghasilkan sesuatu yang lain. Tentunya dengan ukuran produktifas yang berbeda juga.

PertanyaannyaBerapa yang harus dihasilkan supaya bisa disebut produktif—apakah Rp 10 juta perbulan (pegawai)? Lima buah artikel per hari (penulis)? 30 penumpang per hari (tukang ojek)? 50 karung gabah untuk sekali musim panen (petani)?

Menurut saya relatif. Artinya, ukuran produktiftas sesorang berbeda dengan orang lainnya. Misalnya: Bagi penulis A menghasilkan 1 buah artikel setiap hari sudah produktif. Sedangkan bagi penulis B, mungkin ukuran produktifitasnya 3 buah artikel sehari. Demikian juga untuk para pegawai, tukang ojek, petani, dan lain sebagainya.

Tetapi jika seseorang di luar mereka berdua membandingkan antara penulis A dan B, tentunya yang lebih produktif adalah penulis B.

Pastinya setiap orang ingin produktif dan lebih produktif lagi. Dan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menjadi lebih produkif. Saya pribadi berpendapat bahwa produktiftas ada kaitannya dengan efektifitas. Semakin efektif seseorang dalam melakukan pekerjannya, maka semakin banyak yang dapat dihasilkan [terlepas dari kwalitas], yang artinya semakin produktif.

Lalu, apa itu efektif—tepatnya yang bagaimana yang disebut efektif? Saya memandangnya dengan cara yang sangat sederhana: efektif adalah mampu mengelola tenaga [energi] agar dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan lebih cepat, sehingga ujung-ujungnya mampu menghasilkan lebih banyak.

Ada 4 tingakatan energi yang perlu dikelola dengan baik agar efektifitas—lalu produktifitas meningkat:

1. Tingkatan Fisik

Untuk memperoleh energi yang maksimal dibutuhkan kondisi fisik yang prima. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga agar kondisi prima tetap terjaga: olahraga, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan cukup istirahat.

2. Tingkatan Emosional

Emosi yang labil menguras banyak energi, sehingga energi yang tersisa untuk mengerjakan sesuatu menjadi sedikit. Dengan demikian, mampu-atau-tidaknya menjaga emosi agar tetap stabil sangat berpengaruh terhadap ‘efektifitas-lalu-produktifitas’ seseorang. Idealnya, emosi sebaiknya selalu diarahkan ke positif: berpikir positif, optimis, dan realistis.

Selain itu, untuk kebanyakan jenis pekerjaan, emosi yang positif mampu membuat daya kreatifitas mengalir dengan lebih lancar, menghasilkan solusi-solusi yang konstruktif, serta perkiraan-perkiraan yang lebih akurat.

3. Tingkatan Mental

Dalam hal ini adalah mengendalikan perhatian dan fokus dengan baik. Idealnya, mampu mengatur kapan saatnya berfokus—sungguh-sungguh fokus, dan kapan saatnya mengalihkan fokus pada hal lain lalu kembali ke fokus semula. Misalnya:

Saat anda serius mengerjakan sesuatu di komputer, tiba-tiba saja pintu diketuk, satpam masuk untuk pinjam kunci mobil untuk dipindahkan. Mau tidak mau perhatian anda berpindah sesaat. Setelah satpam keluar ruangan, lalu anda kembali ke komputer untuk melanjutkan pekerjaan, mampukah fokus anda langsung ‘on’? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke fokus maksimal?

Lebih jauh lagi, mampu memindahkan fokus yang memerlukan otak kiri [mengerjakan hal-hal yang bersifat analitis] – kepada – fokus yang memerlukan otak kanan [mengerjakan hal-hal yang bersifat kreatif].

4. Tingkatan Spiritual

Inilah tingkatan dimensi energi yang tidak semua orang mampu mengelolanya dengan baik. Yaitu mengalokasikan ketiga tingkatan energi sebelumnya untuk mewujudkan apa tujuan utama seseorang melakukan sesuatu.

Dalam hal ini, adalah kemampuan memilah-milah: mana aktifitas yang berpengaruh langsung terhadap tujuan utama [layak memperoleh energi yang lebih besar], mana aktifitas yang berpengaruh tidak langsung [seharusnya memperoleh alokasi energi yang lebih kecil], dan mana aktifitas yang samasekali tidak ada hubungannya dengan tujuan utama [diabaikan saja].

Faktanya, seringkali kita tergoda untuk menggunakan energi kita pada hal-hal yang tidak berhubungan langsung, atau bahkan tidak ada hubungannya samasekali dengan tujuan utama.

Saya melihat, kemampuan seseorang untuk mengelola keempat tingkatan inilah yang menentukan seberapa efektif seseorang dalam mengerjakan sesuatu. Dan efektifitas  dalam menangani pekerjaan, berpengaruh terhadap produktifitas.

Mengelola tingkatan energi untuk menjadi lebih efektif dan produktif, memang bukan sesuatu yang mudah. Mungkin mudah untuk dipahamai tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Dengan kesungguhan dan kedisiplinan, saya yakin anda bisa. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s